Pernahkah Anda bertanya-tanya dan heran?Mengapa Orang Dewasa Sulit Diatur Atau Ngeyeul? Mengapa sebagian orang tetap melakukan perilaku yang jelas mereka juga tahu bahwa apa yang ia lakukan itu berisiko merugikan diri sendiri atau bahkan merugikan orang lain juga? Mulai dari membuang sampah sembarangan, terlibat tawuran, mabuk, dan perilaku menyimpang lainya, hingga fenomena yang marak saat ini atau bahkan dari dulu sampai sekarang seperti judi online (judol).
Fenomena ini bukan hanya sekadar persoalan kurangnya edukasi dari peran orang tua, para akedemisi, atau bahkan pemuka agama sekali pun. Ini tidak lain atau tidak mungkin merupakan hasil manifestasi dari inersia sosial yang telah mengakar kuat. Namun sebelum menyalahkan faktor eksternal lingkungan, sekolah, atau pemerintah, kita perlu melihat akar paling dasar pembentukan karakter: keluarga.
Pendidikan Dimulai dari Rumah: Laboratorium Perilaku Pertama
Pendidikan pertama adalah semua orang juga sepakat bahwa pendidkan pertama seorang anak bukan dimulai di PAUD atau sekolah dasar, melainkan di meja makan, ruang tamu, dan interaksi sehari-hari di rumah. Karena tidak ada anak yang lahir dengan kecenderungan menyimpang. Walapun banyak menyalahkan bahkan ada peribahasa bergaul dengan orang berjualan minyak wangi pasti ketularan wanginya, memang faktor lingkungan, sekolah, atau pemerintah yang salah juga bisa menjadi membentuk perilaku menimpang. Tapi seperti penjelasan di atas yang paling dasar adalah rumah atau keluarga, karena adanya proses pembelajaran nilai yang terjadi secara sadar maupun tidak sadar ya adanya dari orang tua.
Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menganggap judi online sekadar “hiburan” atau “cara cepat mencari peruntungan”, atau perilaku menyimpang lainya, maka persepsi tersebut akan diserap sebagai kebenaran. Anak tidak memiliki filter kritis yang kuat pada fase awal kehidupannya.
Ketika peran keluarga melemah, komunikasi jarang dilakukan dalam sebuah keluarga atau seperti di contohkan, semisalkan si anak membuat kesalahan dan bercerita kepada orang tua, terus orang tua yang tahu kesalahan si anak dengan membentaknya dengan kasar, lama kelaman si anak enggan berkomunikasi kepada orang tua karena kalau semisalkan si anak membuat kesalahan lagi dan ingin bercerita kepada orang tua lagi, pasti si anak masih ingat dengan respon orang tua yang pertama dengan respon marah atau membentak sang anak dan kalau keterusan begitu pasti si anak akan mencari referensi nilai di luar rumah. Sehingga sayangnya, akan mencari lingkungan eksternal yang memberikan kenyamanan dan ketenangan terhadap kehidupanya, apalagi lingkungan eksternal tidak sepenuhnya memberikan contoh yang positif. Dalam banyak kasus, lingkungan yang salah justru memperkuat perilaku yang keliru dan menjadikannya kebiasaan perilaku menyimpang.
Inersia Sosial: Mengapa Orang Dewasa Begitu “Ngeyel”?
Dalam pengamatan sosial sederhana di sebuah lingkungan, ditemukan bahwa perilaku seperti judi online telah mengalami proses normalisasi. Sebagian orang dewasa bahkan menganggapnya setara dengan permainan digital biasa, tanpa melihat risiko finansial maupun psikologisnya.
Perilaku yang terus diulang akan membentuk habitus, yaitu kebiasaan yang mendarah daging. Pada titik ini, nasihat sering kali tidak lagi efektif. Bukan karena mereka tidak paham, bahkan mereka juga tahu resiko dalam judi online atau perilaku menyimpang lainya karena mereka juga ngeyeul sing penting tidak merugikan orang lain atau jangan mengurusi hidup orang lain jadi masing-masing aja, jadi bukanya tidak paham melainkan karena dalam struktur kognitifnya, perilaku tersebut sudah dirasionalisasi sebagai sesuatu yang wajar.
Inilah salah satu jawaban utama dari pertanyaan Mengapa Orang Dewasa Sulit Diatur? Ego yang telah terbentuk selama bertahun-tahun membuat individu cenderung mempertahankan keyakinan dan kebiasaan lama. Perubahan dianggap sebagai ancaman terhadap kenyamanan dan identitas diri.
Sosialisasi Primer: “Mencetak” Lebih Mudah daripada “Memperbaiki”
Menurut teori George Herbert Mead, anak-anak adalah “spons sosial” yang menyerap norma tanpa filter kritis. Proses ini disebut sebagai sosialisasi primer.
Sehingga Anak yang tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi integritas tidak merasa sedang “dipaksa” untuk jujur. Kejujuran telah menjadi bagian dari identitasnya. Sebaliknya, orang dewasa yang sejak kecil terbiasa dengan pembiaran akan sangat sulit diubah karena hambatan psikologisnya sudah terlalu kuat.
Ketika karakter sudah terbentuk dengan fondasi yang lemah, upaya memperbaikinya di usia dewasa ibarat meluruskan pohon tua yang telah mengeras. Memang masih mungkin bisa memperbaiki perubahan sosial, tetapi membutuhkan energi dan waktu yang jauh lebih besar.
Referensi Global: Belajar dari Pendidikan Karakter di Jepang
Jepang memahami bahwa membangun bangsa dimulai dari keluarga dan pendidikan dasar. Fokus utamanya bukan hanya pada prestasi akademik, tetapi pada pembentukan etika dan tanggung jawab sejak usia dini.
Perbandingan Pendekatan
| Aspek | Pendidikan Dasar & Keluarga di Jepang | Pendekatan Konvensional |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Etika, manners, dan tanggung jawab hingga usia 10 tahun | Nilai ujian dan prestasi akademik |
| Peran Orang Tua | Menanamkan disiplin (konsep Shitsuke) | Menyerahkan pendidikan moral sepenuhnya ke sekolah |
| Hasil Akhir | Disiplin menjadi insting (habitus) | Disiplin terasa sebagai beban atau paksaan |
Di Jepang, orang tua terlibat aktif memastikan anak memiliki rasa tanggung jawab terhadap norma publik. Hasilnya, ketika dewasa, kepatuhan bukan lagi karena takut hukuman, tetapi karena kesadaran internal.
Tantangan Internal: Pendidikan Orang Tua sebagai Benteng
Sekolah mungkin memiliki kurikulum, tetapi keluarga adalah penentu arah pertama. Namun, fakta di Indonesia menunjukkan tantangan besar: sekitar 88% keluarga tidak menempuh pendidikan sarjana atau setidaknya yang tidak bisa menempuh berpendidikan tinggi, bisa kan terus belajar walaupun tidak dalam pendidikan formal saja, karena toh juga pendidikan itu tidak mencerminkan formal saja tapi pendidikan itu bisa kok semua orang bisa akses Pendidikan.
Terlebih ketika kesenjangan pendidikan ini berdampak langsung pada kualitas parenting. Ketika orang tua tidak memiliki pemahaman atau kepedulian (concern) terhadap pendidikan karakter, anak akan mencari "kompas moral" di lingkungan yang salah.
Memang semua orang tua juga pada-pada belajar dalam berkeluarga tapi setidaknya harus paham dulu dong terhadap pendidikan karakter anak. Bahkan jangankan mereka yang paham agama atau berpendidikan, mereka aja masih bisa menghadapi anak dengan perilaku menyimpang, apalagi mereka yang "bodo amat" terhadap pendidikan atau tidak ada kepedulian terhadap pendidikan.
Sehingga ketidakpahaman orang tua memicu perilaku menyimpang anak, jadi jangan heran dan jangan kaget kalau peran orang tua tidak memiliki pemahaman atau kepedulian (concern) terhadap pendidikan karakter yang kemudian berujung pada pengangguran, kemiskinan, dan kebodohan struktural yang terus berulang dari Sabang sampai Merauke. Jangan heran ya teman-teman.
Fondasi Lebih Penting dari Perbaikan
Negara dapat membuat regulasi, sekolah dapat menyusun kurikulum, tetapi keluarga adalah penentu arah pertama dan utama. Hampir mustahil berharap perubahan sosial yang sistemis jika di dalam rumah terjadi pembiaran terhadap perilaku menyimpang akibat ketidaktahuan atau ketidakpedulian orang tua.
Jawaban atas pertanyaan Mengapa Orang Dewasa Sulit Diatur? terletak pada proses panjang pembentukan karakter sejak kecil. Mengubah orang dewasa memang sulit, tetapi memastikan anak tumbuh dengan fondasi moral yang kuat adalah tanggung jawab mutlak orang tua.
Jauh lebih mudah membangun anak-anak yang kuat secara moral daripada memperbaiki orang dewasa yang sudah kehilangan arah. Masa depan karakter bangsa dan perubahan sosial dimulai dari rumah hari ini.