Mengapa Teori Modernisasi Gagal Menjawab Krisis Dompet Pekerja?

2026-01-30 13:30 | Aji Hardiansyah

Ilustrasi pekerja menghadapi krisis biaya hidup di era modernisasi

Teori modernisasi sejak awal menjanjikan bahwa kemajuan teknologi, industrialisasi, dan efisiensi produksi akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas. Modernisasi dipahami sebagai jalan lurus menuju kemakmuran. Namun, realitas yang dihadapi jutaan pekerja pada tahun 2026 justru menunjukkan kontradiksi besar.

Di tengah gemerlap gedung pencakar langit, digitalisasi layanan publik, serta masifnya otomatisasi industri, muncul sebuah anomali sosial yang semakin nyata: pendapatan pekerja stagnan, perusahaan informal semakin meraja lela, sementara di sisi lain pengeluaran hidup tidak sebanding dengan pendapatan. Janji kemajuan atau perubahan-perubahan yang dirasakan masyarakat terutama dalam teknologi terasa semakin jauh dari keseharian buruh, karyawan, dan pekerja sektor informal.

Artikel ini membahas secara kritis mengapa teori modernisasi tidak mengubah hidupdan bahkan dinilai gagal total dengan maraknya PHK massal dan pengangguran dalam menjawab krisis kesejahteraan masyarakat atau bahkan para pekerja, khususnya dalam konteks ekonomi modern yang semakin mahal dan timpang.

Paradoks Pendapatan vs Pengeluaran

Secara sosiologis, teori modernisasi terlalu fokus pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas, namun mengabaikan variabel penting seperti inflasi, urbanisasi ekstrem, dan lonjakan biaya hidup perkotaan.

Fenomena yang kini meluas adalah munculnya kelompok working poor, yaitu mereka yang bekerja penuh waktu, namun tetap hidup dalam kondisi ekonomi yang rapuh dan tidak aman.

Data Riset Ekonomi 2025 Badan Pusat Statistik (BPS)

Berdasarkan tren ekonomi tahun 2025: Data BPS menunjukan jarak antara pendapatan dan pengeluaran kian menipis. Pada maret 2025, rata-rata pengeluaran per kapita mencapai RP 1,56 juta per bulan.

Sementara itu, pendapatan pekerja perkotaan masih terbatas, Februari 2025:

  • Pekerja bebas: Rp 1,77 juta/bulan.
  • Berusaha sendiri: Rp 1,90 juta/bulan.

Analisis Sosiologis

Modernisasi menciptakan standar hidup baru yang mahal, seperti kebutuhan internet, gawai, transportasi modern, dan akses layanan digital.

Namun, teori ini gagal menyediakan bantalan ekonomi agar pekerja mampu memenuhi standar hidup tersebut. Akibatnya, kemajuan teknologi justru berubah menjadi beban baru, bukan alat pembebasan ekonomi.

Jebakan Sektor Informal dan Gaji di Bawah UMR

Salah satu kritik paling tajam terhadap praktik modernisasi adalah pengabaiannya terhadap sektor informal. Di Indonesia, pertumbuhan industri modern tidak serta-merta menyerap tenaga kerja ke sektor formal.

Sebaliknya, mayoritas tenaga kerja justru terserap ke:

  • UMKM
  • Perusahaan informal
  • Pekerjaan kontrak tanpa kepastian

Realitas di Lapangan

Pekerja sektor informal umumnya:

  • Menerima upah jauh di bawah UMR.
  • Tidak memiliki jaminan kesehatan (BPJS).
  • Tidak memiliki dana pensiun atau perlindungan ketenagakerjaan.

Kritik terhadap Asumsi Teori Modernisasi

Teori modernisasi berasumsi bahwa sektor tradisional akan menghilang dan digantikan oleh sektor formal yang teratur. Kenyataannya, modernisasi justru melahirkan sub-kelas pekerja yang dieksploitasi untuk menopang rantai pasok industri besar dengan biaya murah.

Fenomena ini paralel dengan berbagai kebijakan modern yang mengontrol penggunaan teknologi, namun abai terhadap kesejahteraan manusia di baliknya.

Dari Menabung Menjadi Strategi Bertahan Hidup

Pada masa lalu, kerja sampingan (side-hustle) identik dengan upaya menambah tabungan. Namun, di tahun 2026, side-hustle telah berubah menjadi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

Dengan biaya hidup di kota yang tinggi, banyak pekerja hidup nyaris pas-pasan. Tekanan terbesar datang dari kebutuhan pokok: makanan, perumahan listrik, air, dan bahan bakar yang naik lebih cepat dari inflasi.

Seperti yang di rasakan para masyarakat yang bernama Rama(21) Surabaya: Bekerja sejak subuh sebagai petugas kebersihan sekolah, lalu menjadi pengemudi ojek online hingga malam. Total penghasilan sekitar RP 2,2 juta per bulan. Menabung sering mustahil “Seringnya enggak bisa soalnya buat makan juga”. Dan bukan hanya Rama saja tapi Dian(40) Sumedang pun ikut merasakan bekerja penuh waktu dengan berganti-ganti pekerjaan, dari loper koran, pengemudi ojek online, hingga terapis bekam. “Yang penting keluarga saya bisa makan dan anak saya tidak putus sekolah,”

Utang jadi penyangga sementara, tekanan biaya hidup mengubah cara bertahan. Tabungan dipaki untuk kebutuhan harian. Sebagian Masyarakat mulai mengandalkan kredis konsumtif. Utang membantu hari ini, tapi berisiko membebani esok hari.

”Sebagian rumah tangga mulai lebih tergantung pada utang untuk menjaga konsumsi, yang pada akhirnya bisa mengurangi belanja masa depan karena cicilan ‘memakan’ pendapatan.” -Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Sumber:Kompas.com

Dampak Ekonomi dan Psikologis

Akibat membludaknya pencari kerja sampingan:

  • Nilai tawar tenaga kerja menurun.
  • Upah semakin murah.
  • Jam istirahat hilang.
  • Risiko kelelahan dan burnout meningkat.

Ironisnya, meski bekerja lebih lama, saldo tabungan tetap tidak bertambah, karena pengeluaran kebutuhan dasar sudah terlalu dominan.

Ketimpangan Struktural dalam Era Teknologi

Teori modernisasi terlalu terpaku pada indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi dan PDB, namun abai terhadap distribusi kekayaan.

Dalam dunia kerja modern sering kali memperlakukan kelas proletariat secara semena-mena karena mengambil keuntungan di atas penderitaan buruh sehingga mereka kaya makin kaya sementara buruh makin miskin. Selain itu, system pekerjaan yang didesain para kapitalis menyebabkan para buruh merasa terasing atau teralinasi yang diantaranya:

  • Buruh terasing dari aktivitas produksi. Buruh bekerja bukan untuk menciptakan barang yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginanya sendiri, tetapi mereka bekerja untuk kepentingan kapitalis.
  • Buruh teralinasi dari hasil produksinya sendiri. Misalnya buruh memproduksi sepatu tetapi mereka tidak tahu berapa modal yang dikeluarkandan keuntugan yang diperoleh. Selain itu, hasil produksi menjadi milik kapitlis dan bukan miliknya sendiri.
  • Buruh teralinasi dari sesama pekerja lainya. Para buruh tidak saling kenal dengan teman-teman mereka semua buruh karena mereka para kapitalis melarang mereka bekerja sama dan bercakap-cakap saat bekerja. Bahkan sebaliknya mereka dipaksa untuk berlomba dalam berproduksi sehingga acapkali justru menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat karena konflik antar buruh, tentu saja hal tersebut akan menguntungkan si pemilik modal.
  • Buruh teasing dari dirinya sendiri. Buruh bekerja seperti robot. Mereka bekerja setiap hari dengan cara yang sama apalagi dengan para pekerja sekarang banyak yang lebih dari 8 jam, jadinya tanpa inovasi. Contohnya, para buruh yang bekerja sebagai pemintal benang atau penjahit di pabrik garmen, mereka akan melakukan kerja yang sama setiap hari sepanjang tahun sehingga kreativitas dan inisiatif mereka tidak berkembang. Selama buruh bekerja dikontrol secara ketat oleh para kapitalis sehingga potensi diri mereka menjadi mandul.

Teknologi yang seharusnya mempermudah hidup pekerja justru sering digunakan untuk pengawasan berlebihan, penekanan target, dan efisiensi biaya yang berujung pada pemotongan hak pekerja.

Kesimpulan

Teori modernisasi memandang kemajuan sebatas gedung tinggi, mesin canggih, dan sistem digital. Namun, teori ini buta terhadap aspek manusia.

Modernisasi tanpa keadilan upah dan perlindungan sosial hanyalah bentuk baru dari perbudakan digital. Pekerja dipaksa berlari semakin cepat dalam roda ekonomi modern, sementara langkah mereka tertahan oleh biaya hidup yang tidak masuk akal, upah yang stagnan, dan lemahnya perlindungan hukum.

Jika modernisasi tidak disertai distribusi yang adil, maka kemajuan hanya akan dinikmati segelintir elite, sementara mayoritas pekerja terus berjuang sekadar untuk bertahan hidup.