Benih di Balik Bangku Sekolah: Mengapa Institusi Pendidikan Bisa Melahirkan Mentalitas Korup?

2026-01-07 11:00 | Aji Hardiansyah

Ilustrasi refleksi pendidikan dan integritas

Institusi pendidikan idealnya menjadi ruang pembentukan karakter, integritas, dan kesadaran moral. Sekolah dan universitas diharapkan melahirkan individu berpengetahuan sekaligus beretika. Namun, terdapat paradoks yang mengganggu: banyak pelaku korupsi bahkan bukan hanya di instansi pemerintahan tapi dari masyarakat dalam kehidupan sehari-hari tapi justru kenapa kasus-kasus seperti itu berasal dari latar belakang pendidikan tinggi atau institusi ternama.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pendidikan telah gagal menjalankan fungsi moralnya? Ataukah sistem pendidikan secara tidak sadar justru menanamkan pola pikir yang permisif terhadap kecurangan?

Identifikasi Masalah: Pengaruh Lingkungan Pendidikan terhadap Mentalitas

Ketika pas sekolah kita sering membiasakan perilaku kecil yang berulang di lingkungan pendidikan sering kali tanpa kita sadari bahwa kitalah yang merusak tatanan masa depan kita, dengan fondasi pembentukan karakter jangka panjang. Praktik seperti menyontek, menjiplak, atau menghalalkan segala cara, jika dibiarkan, akan membentuk pola pikir yang menempatkan hasil di atas kejujuran.

Dengan adanya sistem pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada capaian angka menciptakan tekanan psikologis. Dalam situasi ini, sebagian siswa merasa terdorong untuk melanggar etika demi memenuhi ekspektasi akademik, tanpa menyadari dampak jangka panjangnya.

Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) dan Normalisasi Kecurangan

Kurikulum tersembunyi mencakup nilai dan perilaku yang dipelajari secara tidak langsung melalui praktik sehari-hari di sekolah. Di sinilah kecurangan sering kali dinormalisasi. Memang kurikulum seperti itu tidak bisa di hindari karena toh juga dari dulu sampai sekarang kurikulum Indonesia itu kalau mengutip para pakar ahli di bidang pendidikan, sudah melakukan perubahan kurikulum dan sistemya tetap gitu aja. Jadi setidaknya hindari lah budaya perilaku menyimpang ini.

Budaya Menyontek

  • Fokus pada Hasil: Ketika nilai menjadi segalanya, proses belajar yang jujur terpinggirkan.
  • Normalisasi Sosial: Menyontek berjamaah kerap dianggap sebagai solidaritas, bukan pelanggaran etika.

Joki Tugas dan Plagiarisme

  • Pengalihan Tanggung Jawab: Membayar orang lain mengerjakan tugas mengajarkan bahwa kewajiban pribadi bisa dipindahkan.
  • Pembajakan Intelektual: Plagiarisme membiasakan individu mengambil hasil kerja orang lain tanpa tanggung jawab moral.

Absensi dan Titip Absen

  • Pelanggaran Kecil: Kebohongan administratif membentuk kebiasaan manipulasi sejak dini.
  • Meremehkan Aturan: Aturan dianggap fleksibel jika ada kesempatan untuk melanggar.

Memang situasi seperti itu tidak bisa di hindari dalam proses belajar kita, karena seolah jadi budaya karena faktor lingkungan atau kurikulum yang membuat seperti itu.

Namun bisa tidak jangan di bawa dalam kehidupan sehari-hari? Kalau terus menyalahkan sistem dan pemerintah gak akan selesai-selesai memang mungkin pemerintah tidak mau menghasilkan lulusan yang jujur dan bermoral! mungkin ya itu juga.

Tetapi tahu tidak budaya itu sangat merugikan bagi anda sendiri dan juga bagi banyak orang, terlebih setidaknya merugikan anda sendiri dan kerabat anda sendiri untuk masa depan yang sudah di rusak oleh anda, seperti dalam kasus korupsi di kepemerintahan bukan hanya itu saja dalam kehidupan sehari-haripun, seperti bekerja tidak sesuai SOP, melanggar aturan, menghalalkan segala cara, sehingga kualitas produk kalah dan perusahaan tidak maju atau berkembang.

Di situ lah letak yang tanpa kita sadari budaya yang di sebutkan diatas, Indonesia jadi sulit sekali naik dalam ekonomi dan makin banyak orang miskin, jadi jangan hanya pemerintah saja yang di salahkan tapi masyarakat juga harus berintropeksi diri. Sehingga tidak aneh pengangguran, PHK, Miskin, ekonomi sulit ya karena anda sendiri yang membuatnya atau tidak mencegahnya dalam kehidupan sehari-hari karena pasti banyak di lingkungan sekitar anda dengan budaya seperti disebutkan.

Sistem Pendidikan Otoriter dan Feodal

Struktur relasi kuasa di sekolah berperan besar dalam pembentukan mentalitas sosial siswa. Sistem yang otoriter cenderung mematikan daya kritis. Sehingga siswa takut berkonflik atau berbeda pendapat dan lebi memilih mencari jalan alternatif atau memanilupasi dalam pembelajaranya. Padahal kalau terus dibiarkan akan mengakibatkan:

  • Otoritas Tanpa Kritik: Siswa belajar bahwa kebenaran ditentukan jabatan, bukan etika.
  • Dampak Jangka Panjang: Di dunia kerja, individu sulit menolak perintah meski melanggar hukum.
  • Whistleblowing Lemah: Budaya feodal menumbuhkan rasa takut melapor.

Tuntutan kelulusan sempurna dan nilai tinggi sering mendorong kecurangan sistemik demi menjaga reputasi institusi.

Ketika siswa menyaksikan orang dewasa memanipulasi sistem, kecurangan memperoleh legitimasi moral.

Dampak Jangka Panjang: Korupsi Sistemik

Dampak korupsi sistemik memiliki efek domino yang merusak fondasi negara dalam jangka panjang bahkan merusak generasi mendatang. Hingga tahun 2026, korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga melumpuhkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Kehancuran Struktur Ekonomi & Daya Saing

  • Pertumbuhan ekonomi terhambat akibat distorsi alokasi anggaran dan ketidakpastian hukum.
  • Investasi asing menurun karena rendahnya kepercayaan terhadap tata kelola negara.
  • Infrastruktur dan layanan publik berkualitas rendah akibat kebocoran anggaran.
  • Ketimpangan sosial semakin tajam karena dana kesejahteraan dinikmati elite tertentu.

Erosi Integritas dalam Dunia Kerja

  • Etos kerja melemah karena promosi dan proyek ditentukan oleh koneksi, bukan kompetensi.
  • Budaya manipulasi seperti titip absen dan laporan palsu dianggap lumrah.
  • Produktivitas menurun dan kualitas produk kalah bersaing di pasar global.
  • Kegagalan bisnis memicu kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja.

Degradasi Moral & Kehidupan Sehari-hari

  • Suap kecil dan pungutan liar dinormalisasi dalam birokrasi.
  • Kepercayaan publik terhadap pemerintah terus menurun.
  • Hukum kehilangan keadilan karena bisa dibeli oleh pemilik modal.

Dampak Keamanan & Lingkungan

  • Anggaran pertahanan yang dikorupsi melemahkan kualitas alutsista dan SDM keamanan.
  • Korupsi perizinan mempercepat kerusakan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.
  • Dampak ekologis ditanggung masyarakat dalam jangka panjang.

Implikasi Nasional

Korupsi sistemik yang dibiarkan akan membuat Indonesia sulit keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) karena daya saing nasional melemah akibat runtuhnya integritas institusi.

Penutup: Pendidikan sebagai Akar atau Racun?

Korupsi bukan penyakit instan, melainkan hasil pembiasaan panjang. Jika sekolah dan masyarakat mengabaikan integritas, maka ia berisiko menjadi laboratorium pembentuk mentalitas korup berkepanjangan. Karena saya yakin orang Indonesia pada pintar dan berilmu tinggi segala bisa dan bisa bersaing dengan asing.

Pendidikan harus dikembalikan sebagai kawah candradimuka integritas—tempat karakter ditempa, bukan sekadar angka dikejar. Yang tertimpa pun dengan sistem pendidikan seperti ini jangan hanya membiasakan sesuatu yang salah, lama-lama jadi keseharian dan menjadi bentuk yang susah di kasih tahu sehingga mengkorbankan generasi mendatang. Kecuali mau anda rusak tatanan hidup ini ya gak papa sih kalau anda tahu konsekunesinya gimana, anda yang menentukan. Tetapi kalau anda manusia dan punya keluarga ya gitu dech.