Mengapa Takut Berkonflik Justru Memperkuat Feodalisme

2025-12-24 09:53 | Aji Hardiansah

Mengapa takut berkonflik justru memperkuat feodalisme dan menghambat perubahan sosial

Banyak orang mengira bahwa diam dan selalu setuju adalah bentuk kesopanan yang menjaga tatanan hidup, untuk menjaga ketertiban dalam kehidupan bersosialisasi. Padahal, sikap ini sering kali justru menjerumuskan kita ke dalam praktik feodalisme modern. Dalam situasi semacam ini, kebenaran kerap dikorbankan demi menjaga perasaan atasan, guru, senior, teman, sepupu atau pihak yang dianggap memiliki kuasa lebih tinggi. Karena takut untuk berkonflik

Tapi kalau dibiarkan, tatanan sosial dalam kehidupan sehari-hari menjadi tidak sehat, dan akan menimbulkan kesalahpahaman, karena tidak adanya perbincangan/konflik. Apalagi kalau terus dibiarkan, keputusan tidak lagi diambil berdasarkan fakta, rasionalitas, dan kepentingan bersama, melainkan berdasarkan rasa takut untuk berbeda pendapat. Padahal, dalam realitas sosial, pertentangan atau konflik bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif.

Konflik sebagai Keniscayaan dalam Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat, konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Karena perbedaan kepentingan, sudut pandang, nilai, dan tujuan hampir selalu melahirkan pertentangan, perselisihan, bahkan bentrokan, bahkan kalau tidak menghindar tidak akan terjadi perubahan.

Salah satu contoh nyata dapat kita lihat pada penertiban pedagang kaki lima di kawasan permukiman kumuh. Aktivitas berdagang yang tidak tertata sering menimbulkan kemacetan, penumpukan sampah, serta gangguan ketertiban umum. Kondisi ini kerap memicu konflik antara pedagang kaki lima dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Namun, konflik tersebut tidak selalu berakhir buruk

Konflik yang Dikelola dengan Baik Melahirkan Perbaikan

Salah satu bentuk penyelesaian konflik yang konstruktif adalah dialog. Melalui dialog, masyarakat dan pemerintah dapat mencari titik temu dan kesepakatan bersama. Dalam banyak kasus, solusi yang dihasilkan berupa penyediaan tempat alternatif untuk berjualan yang lebih tertib, bersih, dan layak.

Perubahan ini secara tidak sadar perlahan menggeser kebiasaan lama menuju konsep pasar modern dengan fasilitas yang lebih nyaman, bersih, dan terhindar dari kesalahpahaman masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa konflik, jika dikelola secara sehat, atau kepala dingin justru menjadi pemicu perubahan sosial yang positif. Walaupun kadang para pedagan kaki lima suka habis seminggu, kembali lagi ke tempat asal. tetapi setidaknya sudah ada perubahan sosial yang ditunjukan lewat konflik. Kalau seperti itu tergantung Pemerintahnya, memberikan tempat yang layak bagi para pedagang kaki lima.

Tapi Mengapa Kita Begitu Enggan Berkonflik?

Lalu muncul pertanyaan penting: mengapa manusia justru sangat enggan berkonflik?

Keengganan ini berakar pada kombinasi faktor psikologis, biologis, dan sosial. Manusia secara alami cenderung menghindari konflik karena takut akan penolakan, sanksi sosial, dikucilkan, atau dicap sebagai pembangkang.

Tapi kelau melihat sisi dari psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai Abilene Paradox.

Abilene Paradox dan Budaya Diam yang Merusak

Abilene Paradox. Terjadi ketika sebuah kelompok mengambil keputusan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh satu pun anggotanya, semata-mata karena setiap individu mengira orang lain menyetujuinya. Tidak ada yang berani bersuara karena takut berbeda.

Fenomena ini sangat mudah kita temukan dalam berbagai konteks sosial, antara lain:

  • Hierarki guru–siswa, Guru diposisikan selalu benar, sementara siswa ditempatkan sebagai pihak yang harus selalu nurut dan patuh atas keputusan oleh Guru, walaupun si Guru juga belum tentu benar bagi siswa.
  • Pembungkaman pemikiran kritis karena siswa takut dianggap membangkang.
  • Sakralisasi ilmu, sehingga pengetahuan tidak boleh diperdebatkan.
  • Aturan non-timbal balik yang hanya berlaku bagi siswa, tetapi tidak bagi guru.
  • Label seperti “sekolah favorit”, peringkat, dan gelar lebih dihargai dibandingkan pengembangan potensi individu.
  • Senioritas buta dalam organisasi yang tidak produktif,senioritas sering dijadikan alat kuasa, bukan sarana pembelajaran.

Dampak Negatif Budaya Takut Berkonflik

Budaya takut berkonflik dan feodalisme modern menimbulkan berbagai dampak negatif yang serius, yang di antaranya:

  • Menghambat inovasi dan kreativitas.
  • Membentuk generasi yang kurang adaptif terhadap perubahan
  • Menurunkan mutu pendidikan dan kualitas organisasi
  • Membuat pemimpin dan pendidik nyaman berada di zona nyaman
  • Menghambat tercapainya tujuan organisasi dan cita-cita pendidikan nasional.

Tapi apa sih kalau situasi seperti itu dibiarkan?

Harmoni Semu yang Menghancurkan Mental

Ketika konflik dihindari secara ekstrem, dengan tidak melihat kedepan, yang muncul bukanlah harmoni yang tulus, melainkan harmoni semu, yang terus ada dalam diri. Kritik dianggap sebagai ancaman, sementara masukan dipersepsikan sebagai serangan pribadi, dan ke engganan untuk berpikir kritis lagi atau berbeda pendapat, untuk kedepanya, ya kan?

Apalagi kalau terus dibiarkan masalah yang tidak diungkapkan tidak akan hilang. Ia hanya berpindah ke dalam pikiran, menjadi perasaan sebagai beban mental yang terus menumpuk, dan membuat tak terkendali sehingga menimbulkan kerusakan tatanan sosial untuk kedepanya. Sehingga akan menjadi beban emosi yang berlebihan, terhadap dirinya sendiri, toh juga kalau memendam emosi,tidak baik dalam jangka panjang. Seperti yang disebutkan oleh Ala Dokter:

Bahaya Memendam Emosi dalam Jangka Panjang

Secara medis dan psikologis, emosi yang terus dipendam dapat berdampak serius, antara lain:

1. Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

Memendam emosi dapat melemahkan sistem imun sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

2. Mengakibatkan Kecemasan Berlebih

Emosi yang ditekan terus-menerus memicu produksi hormon stres yang berdampak pada kesehatan fisik.

3. Mengakibatkan Depresi

Tekanan emosional berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi.

4. Menyebabkan Penyakit Kronis

Stres jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan pencernaan.

(Sumber: Alodokter)

Tapi kalau konflik yang menimbulkan emosi tidak di kontrol dengan baik pasti akan terjadi, seperti ala dokter tersbut. Makanya supaya tidak terjadi, konflik sehat bisa menjadi check dan balance yang bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Konflik sebagai Alat Check and Balance yang Sehat

Seiring konflik yang tidak bisa hindari, penting sekali untuk membedakan antara konflik destruktif dan konflik fungsional. Konflik fungsional adalah konflik ide yang terkelola dengan baik dan berorientasi pada solusi. Bukan malah nambah permasalahan baru lagi.

Tetapi kalau Konflik ide yang sehat, setidaknya membantu organisasi atau kesalahpahaman yang terjadi, dapat menguji kebijakan dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan meningkatkan kualitas keputusan, dalam membangun budaya belajar. yang berbeda-beda.

Tanpa benturan gagasan, Kesalahpahaman akan terjadi, toh juga kebanyakan orang sering salah paham karena terlalu sering atau selalu membiasakan enggan berkonflik, karena akibat komunikasi yang kurang/konflik. Bahkan bisa jadi inovasi tidak akan lahir, karena berorganisasi atau bermasyarakat yang sehat justru membutuhkan konflik sebagai mekanisme check and balance.

Kesimpulan: Kejujuran sebagai Fondasi Tatanan yang Kuat

Tatanan hidup atau perubahan sosial dimulai dari gesekan yang sehat, karena tatanan yang mampu mengelola perbedaan menjadi solusi, Yang akan menghancurkan feodalisme. Dan dimulai dari keberanian untuk berkata “saya tidak setuju” pada saat yang tepat dan dengan cara yang beradab serta menghormati satu sama lainya.

Manusia yang merdeka adalah manusia yang berani berpikir, berpendapat, dan berdialog. Dari sanalah perubahan sosial bermula—melalui konflik yang dikelola secara sehat demi kesejahteraan bersama serta relasi sosial yang saling menghormati.