Keluarga Thom Haye Terima Ancaman Pembunuhan Pasca Persib Tekuk Persija

2026-01-11 14:00 | Aji Hardiansah

Thom Haye Persib Bandung

Kemenangan tipis 1-0 Persib Bandung atas Persija Jakarta pada Minggu sore (11/1/2026) serta sekaligus berada di puncak klasemen atau juara paruh musim. Namun situasi tersebut laga sesudah pertandingan sungguh sangat memperihatinkan terutama bagi gelandang Persib, Thom Haye, bagi laga pertama derby Indonesia tersebut justru berubah menjadi mempertanyakan sepak bola Indonesia ini?. Tak lama setelah peluit panjang berbunyi, pemain berjuluk "The Professor" itu mengonfirmasi bahwa keluarganya menerima serangkaian ancaman pembunuhan yang mengerikan.

Ancaman tersebut langsung memicu kecaman luas dari publik, pemerhati sepak bola, hingga komunitas suporter moderat yang menilai tindakan tersebut telah melampaui batas nalar dan kemanusiaan. Namun bagi untuk para suporter yang mendukung jangan terlalu ikut terprovokasi dengan kejadian ini, karena masa harus satu Indonesia di pecah belah oleh sebagian oknum suporter? Dan masa gak negara kita yang mengadu domba kita ehk, perihal sepak bola pun kenapa harus begitu? saling adu domba, dan kita percayakan kepada pihak yang berwajib.

Kronologi dan Pemicu Teror

Teror ini diduga bermula dari tingginya tensi rivalitas dalam laga klasik Persib kontra Persija. Pasca-pertandingan, situasi di sejumlah wilayah seperti Bogor dan Depok dilaporkan sempat memanas akibat bentrokan antar-kelompok massa.

Di tengah eskalasi emosi tersebut, Thom Haye mengungkapkan bahwa pesan-pesan intimidasi mulai membanjiri kanal pribadi miliknya. Ancaman tersebut tidak hanya ditujukan kepada dirinya sebagai pemain, tetapi secara spesifik menargetkan keselamatan anggota keluarganya.

Sejumlah spekulasi berkembang di ruang publik, mulai dari ketidakpuasan oknum suporter lawan terhadap hasil akhir pertandingan, hingga interpretasi berlebihan terhadap gestur atau kontribusi Thom Haye yang membuat posisi Persib semakin kokoh di papan klasemen.

Budaya Kekerasan

Jika ditelaah secara seksama, peristiwa ini sudah berulang kali selalu ada permasalahan dan jadinya mencerminkan transisi berbahaya dalam budaya suporter Indonesia, yakni pergeseran dari fanatisme klub menjadi fanatisme identitas yang toksik yang hanya untuk kepentingan ego saja dan merugikan banyak pihak karena ulah mereka sendiri.

Bahkan Sepak bola Indonesia tidak lagi dipandang sebagai hiburan olahraga, melainkan sebagai simbol harga diri kelompok yang dianggap tidak boleh kalah. Ketika kekalahan terjadi, intensitas di kehidupan belum selesai atau bisa di anggap penistaan agama yang harus di bela mati-matian dan memperoleh pahala untuk masuk surga, sehingga sebagian oknum memilih mecari kambing hitam sebagai pelampiasan rasa malu sosial dan lebih unggul dari pada sesama manusia untuk saling menghormati.

Ancaman terhadap keluarga pemain menandai runtuhnya batas antara sesama manusia diruang publik dan privasi. Sehingga ini adalah bentuk kolektivitas agresif, di mana individu merasa aman melakukan tindakan kriminal untuk pelampiasan kemarahan dia sendiri dan merusak tatanan suporter yang sempat memberikan saling hormat tapi bagi individu bisa bersembunyi di balik anonimitas suporter palsu untuk melampiaskan kekecewaanya, sehingga tidak di sadari dari satu atau dua orang bisa menyebabkan kegaduhan merambat panjang ke tatanan sepak bola Indonesia antar sesama suporter.

Kritik Keras untuk Suporter Fanatik Berlebihan

Perlu ditegaskan, fanatisme tidak pernah menjadi pembenaran untuk ancaman pembunuhan. Ketika dukungan berubah menjadi teror, maka yang tersisa bukan lagi kecintaan terhadap klub, melainkan kegagalan mengelola emosi dan nalar.

Suporter yang mengancam keluarga pemain sejatinya sedang mempermalukan klub yang mereka klaim cintai. Alih-alih membela kehormatan tim, tindakan tersebut justru menempatkan klub, liga, dan sepak bola Indonesia dalam citra yang gelap dan berbahaya. Bahkan akibat alih-alih seperti itu bukan hanya sepak bola Indonesia yang merugi, tapi akibat bertambahnya pengangguran juga karena ekonomi tidak berputar karena dari sepak bola lah bisa menaikan taraf ekonomi Indonesia seperti penjualan tiket, pedagang sekitar stadion, pedagang merchandise baju dan lain-lain.

Jadi sudah saatnya sebagian suporter bercermin: apakah mereka mendukung sepak bola, atau sekadar melampiaskan frustrasi pribadi dengan berlindung di balik atribut klub? Karena kalau tindakan anda tidak merugikan orang banyak tidak apa-apa untuk diri sendiri aman-aman saja kalau mau merusak tv anda pun, tapi sih sebenarnya pasti terasa sih kalau semua itu di ruksak oleh sebagian orang, bahkan kepada diri sendiri. Kalau semisalkan oknum yang mengancam sudah bekerja dan ekonomi Indonesia sulit pasti bakalan butuh lagi kepada anda sendiri sih dan yang pusing anda sendiri.

Bela Tim Dengan Beradab

Bela tim itu wajib. Saya setuju! Kalau tim kita dihina, kita panas, itu wajar. Tapi ada taraf tertentunya lah sesudah di lapangan sudah selesai paling kritik terhadap permainannya sesama teman setongkrongan yang gak terlalu baper toh juga kan yang di bela juga sampai ada mati pun gak berubah hasil pertandinganya, kecuali kalau yang percaya agama bela mati-matian sampai merugikan orang lain bisa masuk surga firdaus ya gak papa dan aman-aman saja saya dukung. Jadi bela tim yang paling keren itu bukan dengan cara neror keluarga orang.

Bela tim yang paling gentle adalah dengan bikin stadion jadi tempat yang aman. Biar apa? Biar investor mau datang, pedagang merasakan keuntunganya bisa muter ekonomi Indonesia dan pajaknya buat bansos untuk keluarga anda dan beli tiket lagi untuk menonton sepak bola atau beli merchandise club yang anda cintai, itu yang paling bagus supaya ekonomi club bagus dan menghasilkan pemain yang berkualitas dan bersaing lagi. Tidak hanya itu saja sih fasilitas stadion makin bagus, dan biar pemain-pemain kelas dunia kayak "The Professor" merasa nyaman ngajar kita cara main bola yang bener.

Liga Indonesia itu liga terbaik dan paling aman di Asia!

Percayakan urusan kemarin ke pihak berwajib. Nggak usah adu domba lagi di medsos paling saling kritik skils dan permainanya itu saya setuju apalagi sambil ngopi dan nongkrong sangat setuju dan berbicara toksix pun gak papa karena ada taraf tertentunya, bahkan tukang warungnya pun merasakan keuntunganya dengan banyak orang mengunjungi dan tertib. Buat suporter Persib dan Persija atau suporter clube lainya kalian itu dua kutub yang bikin sepak bola Indonesia hidup. Tanpa salah satu dari kalian, liga ini sepi. Bukan hanya sepak bola Indonesia saja yang hidup tapi Indonesia dari sektor ekonominya pun bisa merasakan kemajuan dan menghasilkan lowongan pekerjaan untuk anda sendiri, teman, kerabat anda sendiri dan tidak menyusahkan anda lagi.

Mari kita jaga aset ini. Kita jaga keamanan pemain, kita jaga martabat bangsa. Ingat, kemenangan terbesar adalah saat kita bisa maju bareng-bareng sebagai satu Indonesia yang makmur. Karena kalau bukan orang lain siapa lagi kita berharap, pemerintah? Toh juga kalau masyarakat baik dan bisa mengubahnya sendiri dengan menjaga aset negara Indonesia kepemerintahanya pun pasti ikut karena sudah ada perubahan dari masyarakatnya.