Pengelolaan Sepak Bola: Popularitas Liga, Pemain Asing, dan Terasingnya Talenta Lokal

2026-01-28 11:30 | Aji Hardiansyah

Ilustrasi pemain lokal terasing akibat dominasi pemain asing di liga sepak bola

​Sepak bola Indonesia sedang mengalami transformasi industri yang luar biasa. Berkat performa Timnas diaspora yang menanjak dan kehadiran pemain bintang kelas dunia di liga domestik, seperti "Layvin Kurzawa" Yang telah bergabung dengan pasukan maung Bandung, semenjak Persib Bandung mendatangkan Kurzawa, Indonesia kini menjadi perbincangan hangat di mata dunia. Namun, di balik kemilau angka-angka tersebut, muncul pertanyaan besar: Ke mana perginya arus uang yang besar ini, dan apakah pemain lokal seolah terasingkan di rumah sendiri?

Data Pemasukan dan Nilai Pasar: Sepak Bola Indonesia di Mata Dunia

Popularitas sepak bola Indonesia yang naik daun berbanding lurus dengan nilai ekonomi. Berdasarkan data dari Transfermarkt dan laporan industri olahraga, nilai pasar Liga Indonesia kini menembus angka yang sangat signifikan di kawasan Asia Tenggara. ​Market Value Liga 1: Total nilai pasar pemain di Liga 1 diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,2 Triliun hingga Rp1,4 Triliun. Angka ini didongkrak oleh kedatangan pemain asing dengan profil tinggi. ​Pemasukan Hak Siar & Sponsor: PSSI dan pengelola liga mendapatkan pemasukan dari hak siar yang terus meningkat setiap musimnya. Nilai kontrak sponsor utama liga saat ini diperkirakan mencapai angka ratusan miliar rupiah per musim. Serta ​kehadiran penonton: Indonesia konsisten masuk dalam daftar negara dengan rata-rata kehadiran penonton stadion tertinggi di Asia, yang berarti pemasukan dari tiket (match dayrevenue) sangatlah masif. Itu pun hanya sebagian club yang mempunyai kapasitas penonton yang tinggi selebihnya yang mayoritas club jumlah penggemarnya sedikit sedikit kesulitan untuk bersaing dengan club di papan atas.

Perbandingan Pengembangan: Mengapa Infrastruktur Masih Tertinggal?

Dengan pemasukan yang melimpah, seharusnya Indonesia mampu memfasilitasi infrastruktur setara negara maju. Namun, mari kita lihat perbandingannya: Komponen Infrastruktur Indonesia Jepang (J-League) Thailand (Thai League) Pusat Pelatihan Baru mulai fokus (Project IKN). Setiap klub wajib punya 3-5 lapangan latihan pribadi. Klub papan atas punya akademi dengan asrama atlet. Kualitas Rumput Masih banyak stadion dengan rumput tidak standar. Standar internasional hingga divisi bawah. Fokus pada drainase dan kerataan permukaan lapangan. Sistem Lisensi Sering terjadi kompromi demi jalannya liga. Sistem Lisensi Sering terjadi kompromi demi jalannya liga. Sangat ketat; tanpa infrastruktur, klub dilarang ikut liga. Mengadopsi standar AFC secara disiplin sejak 2010. Data ini menunjukkan adanya Pengelolaan. Uang yang masuk dari popularitas "bintang" lebih banyak habis untuk operasional jangka pendek dan gaji pemain asing mahal, daripada diinvestasikan ke beton dan rumput (infrastruktur) untuk jangka panjang.

Terasingnya Pemain Lokal: Dilema di Balik Popularitas

Kedatangan "Kurzawa" atau pemain asing berlabel bintang memang menaikkan gengsi liga, namun memiliki dampak samping bagi pemain lokal: ​Menit Bermain yang Tergerus: Posisi kunci seperti striker atau gelandang kreatif hampir selalu diisi asing. Pemain lokal menjadi "terasing" karena hanya berperan sebagai pelapis. Di tambah peraturan Super League opsi pemain asing 11 pemain dan yang wajib di mainkan 8 pemain. ​Ketimpangan pemain lokal: Ada jurang menit bermain yang sangat lebar antara pemain asing bintang dengan pemain lokal muda, yang bisa memengaruhi motivasi, regenerasi dan perkembangan para pemain muda lokal, di tambah kualitas Indonesia yang stugnan berkat sistem yang tidak berubah jadi makin sulit untuk berkembang.

Pentingnya Pengawasan terhadap PSSI dan Klub

​Karena sepak bola Indonesia sedang "naik daun" di mata dunia, pengawasan masyarakat/penonton sesungguhnya harus semakin ketat. Jangan hanya menonton serta tidak ikut berpartisipasi dalam segi perkembangan sepak bola Indonesia terutama pemain muda lokal, kalau untuk partisipasi ekonomi dari membeli tiket dan merchandise jangan di ragukan lagi, jadi jangan sampai popularitas ini hanya menjadi "topeng" bagi manipulasi pendapatan atau kegagalan pembangunan infrastruktur. ​PSSI sebagai induk organisasi memiliki tanggung jawab moral untuk mengalihkan arus uang dari sponsor ke daerah-daerah. Infrastruktur yang merata akan memastikan talenta dari pelosok Indonesia tidak mati sebelum berkembang.

​Sepak bola adalah alat pemersatu dan penggerak ekonomi. Kita bangga liga kita populer di dunia, namun kita akan lebih bangga jika popularitas itu mampu membangun ribuan lapangan berkualitas di seluruh pelosok negeri dan menghasilkan talenta-talenta pemain muda lokal Indonesia yang bermain di luar negeri atau menjadi bintang di negara sendiri. ​Hanya dengan infrastruktur yang mumpuni dan kejujuran dalam pengelolaan, pemain lokal tidak akan lagi merasa terasing. Sehingga mereka membawa Indonesia benar-benar terbang tinggi di panggung dunia, bukan hanya .

Hanya dengan infrastruktur yang mumpuni dan kejujuran dalam pengelolaan, pemain lokal tidak akan lagi merasa terasing. Mereka akan tumbuh menjadi pemain-pemain kritis yang mampu bersaing dengan pemain asing mana pun, serta membawa Indonesia benar-benar terbang tinggi di panggung dunia.