Generasi yang Rapuh di Ujung Jari: Densus 88 Antiteror Mendapati 70 Anak Terpapar Komunitas Kekerasan!

2026-01-09 11:30 | Aji Hardiansyah

Ilustrasi kesehatan mental remaja dan risiko radikalisme digital

Memasuki tahun 2026, lanskap layanan kesehatan mental di Indonesia mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya fasilitas kesehatan mental lebih banyak menangani pasien usia dewasa dan lanjut usia dengan gangguan berat, kini terjadi lonjakan pasien dari kalangan remaja dan pemuda.

Bahkan yang sangat memprihatikan pada Januari 2026, Densus 88 menemukan 70 anak rentang usia 11-18 tahun di 19 provinsi yang terpapar komunitas kekerasan, dengan mayoritas telah mendapatkan intervensi berupa asesmen dan konseling untuk pemulihan perilaku. Hingga kalau melihat kasus seperti ini sungguh sangat mengkhawatirkan untuk para generasi mendatang atau harapan remaja harapan bangsa.

Bahkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) mengungkap gambaran serius mengenai kondisi kesehatan mental masyarakat, khususnya generasi muda. Angka-angka ini menegaskan bahwa persoalan kesehatan jiwa bukan lagi isu individual, melainkan krisis sosial yang nyata.

  • 20% penduduk Indonesia atau sekitar 54 juta orang mengalami gangguan mental emosional.
  • 9,8% remaja mengaku pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri.
  • Hanya 8% penderita gangguan mental yang mendapatkan penanganan profesional.
  • Lebih dari 2.000 kasus bunuh diri tercatat setiap tahunnya.

Angka-angka tersebut menunjukkan beberapa persoalan struktural yang saling berkaitan, antara lain:

  • Kesenjangan besar dalam akses dan layanan kesehatan mental.
  • Stigma sosial yang masih kuat terhadap individu dengan gangguan kejiwaan.
  • Minimnya edukasi publik mengenai kesehatan jiwa dan pentingnya penanganan dini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti kondisi serupa dalam skala global. WHO menyebutkan bahwa:

  • 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun di dunia pernah mengalami gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku.
  • Banyak gangguan kesehatan mental mulai muncul sejak usia 14–18 tahun.
  • Lebih dari setengah remaja yang mengalami masalah kesehatan mental tidak mencari bantuan karena rasa takut, malu, atau tidak tahu harus ke mana.

Di Indonesia, temuan Survei I-NAMHS memperkuat gambaran tersebut dengan data yang lebih spesifik:

  • 34,9% remaja (sekitar 15,5 juta orang) mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
  • 5,5% remaja (sekitar 2,45 juta orang) mengalami satu gangguan mental yang terdiagnosis dalam periode yang sama.
  • Rincian gangguan meliputi: depresi (1%), kecemasan (3,7%), post traumatic stress disorder / SPTSD (0,9%), dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) (0,5%).
  • Namun, hanya 2,6% dari remaja tersebut yang pernah mengakses layanan konseling atau dukungan profesional dalam 12 bulan terakhir.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menegaskan kerentanan kelompok usia muda:

  • Kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi depresi tertinggi, yaitu 2,0%.
  • Ironisnya, kelompok usia ini juga menjadi yang paling sedikit mencari bantuan profesional untuk depresi, yakni hanya sekitar 10,4%.
  • Masalah kesehatan jiwa pada usia 15–24 tahun menempati posisi tertinggi kedua dengan prevalensi 2,8%.
  • Sebanyak 0,39% penduduk usia 15–24 tahun pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, menandakan tekanan mental yang serius pada kelompok ini.

Sumber :Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan lagi sekadar pertanyaan apakah generasi muda mengalami masalah kesehatan mental, melainkan sejauh mana mereka memiliki akses, dukungan, dan lingkungan yang aman untuk menghadapi serta memulihkan diri dari tekanan psikologis yang mereka alami.

Tantangan Kesehatan Mental Remaja

Fenomena ini menunjukkan bahwa kasus depresi pada remaja bukan lagi isu pinggiran, melainkan persoalan serius. Memang perbedaan anak zaman 95 ke bawah dan zaman 95 ke atas tidak jauh berbeda pasti pernah merasakan kondisi mental yang rapuh tapi perbedaan rentan anak generasi sekarang cenderung mencari dukungan dan identitas di ruang digital. Sehingga konsumsi pengaruh teknologi terlalu berbahaya atau berdampak negatif yang diantaranya: Tekanan Dunia Digital, Bullying, Hancurnya Komunikasi di Rumah.

Tetapi dinisi perbedaan anak 95 ke bawah dan generasi sekarang yang paling penting dengan faktor peningkatan perceraian serta hilangnya figur ayah secara fisik dan emosional. Sehingga tidak bisa terelakan dengan data generasi sekarang mengalami gangguan mental, terpapar konten kekerasan, dan meningkatnya kasus bunuh diri akibat bullying.

Krisis Keluarga: Fatherless dan Broken Home

Dalam kaitanya dengan permasalahan remaja, rintangan perkembangan remaja menuju kedewasaan ditentukan oleh faktor yang mempengaruhi anak di waktu kecil di lingkungan rumah tangga dan lingkungan masyarakat. Dimana anak hidup dan berkembang. Jika seseorang individu dimasa kanak-kanak mengalami rintangan dan kegagalan, frustasi, maka frustasi dan konflik yang pernah dialaminya dulu itu merupakan penyebab utama timbulnya kelainan tingkah laku seperti kenakalan remaja, kegagalan penyesuian diri, dan kelakuan jahat.

Sehingga pembentukan karakter anak untuk bersosialisasi lebih ke teknologi. Karena kalau seharusnya kan ada empat prinsip pembentukan sosialisasi yang diantaranya:

  • Pertama: Interaksi pada saat anak-anak atau tumbuh dewasa untuk membangun kebiasaan dan pengalaman dalam bertindak menjadi tidak ada karena algoritma media sosial yang semu atau dihabiskan bersama teknologi apalagi kalau tidak didampingi peran orang tua sangat berbahaya. Jangankan masa remaja yang udah dewasa aja kadang sangat berbahaya.
  • Kedua: Interksi dalam kelompok primer berupa keluarga maupun kelompok agama atau kepercayaan yang biasanya lebih berpengaruh daripada kelompok sekunder berupa sekolah maupun organisasi kerja (work group).
  • ketiga: Interksi dengan orang yang memiliki kedekatan emosional, seperti teman lebih berpengaruh daripada interksi jangka pendek. Kalau anak zaman dulu masih ada memaksakan dalam menjalin interaksi dengan teman walaupun sudah di bully karena yaitu dia tidak ada alternatif selain teknologi/media sosial.
  • Keempat: Interaksi jangka panjang lebih berpengaruh daripada interaksi jangka pendek. Pembentukan sosialisasi tersebut dapat digambarkan dengan pembentukan kepribadian dari individu. Hal pertama yang harus dikenali individu mengenai konsep diri dan kebiasaan diperoleh dari interaksinya dengan keluarga.

Namun pada kenyataanya, tidak semua keluarga dapat memenuhi gambaran ideal sebuah keluarga yang baik. Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dewasa lebih banyak memberikan hasil yang menggembirakan dan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, pada waktu bersamaan, perubahan tersebut membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi keluarga. Misalnya, ada gejala perubahan cara hidup dan pola hubungan dalam keluarga karena berpisahnya suami/ibu dengan anak dalam waktu yang lama setiap harinya. Kondisi demikian menyebabkan komunikasi dan interaksi antara sesama anggota keluarga menjadi kurang intens. Hubungan kekeluargaan yang semula kuat dan erat, cenderung longgar dan rapuh.

A. Kesimpulan

Kasus depresi pada remaja adalah fondasi rapuh yang dapat membuka jalan bagi pengaruh ekstrem. Ketahanan bangsa dimulai dari kesehatan mental keluarga. Sehingga untuk para orang tua atau yang akan mempersiapkan menempuh hidup berkeluarga teruslah belajar dan memahami setiap yang anda alami saat ini. Tidak ada anak yang durhaka kecuali orang tua yang menyerah.

“Menyelamatkan satu remaja dari depresi adalah langkah nyata mencegah satu potensi kekerasan di masa depan.”