Fenomena pengangguran dan PHK massal belakangan ini kerap dituding sebagai dampak ketidakstabilan ekonomi global. Namun, jika kita melihat melalui kacamata sosiologi organisasi, ada faktor "penyakit" internal yang jauh lebih mematikan yaitu: patologi organisasi.
Patologi ini terjadi mulai dari level bawah hingga pucuk pimpinan. Ketika sebuah perusahaan hancur, sering kali akarnya bukan karena pasar yang lesu, melainkan karena moralitas kerja yang sudah keropos dari dalam. Toh juga saya yakin soal inovasi sebuah perusahaan menghasilkan produk yang berkualitas baik barang dan jasa pasti bisa berasaing di pasar global, namun itu tergantung seberapa anda bekerja profesional. Jadi apakah perusahaan stagnan atau tidak berkembang maupun tidak maju? Bahkan malah sebaliknya pengangguran di mana-mana dan PHK massal. Karena Ulah anda sendiri dalam bekerja?
Patologi di Level Operasional Pelanggaran SOP sebagai Akar Masalah
Banyak kegagalan perusahaan berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele, sehingga tidak kita sadari merusak tatanan dalam bekerja baik soal pendapatan atau kesejahteraan para karyawan. Seperti pelanggaran terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP). Padahal, SOP sejatinya adalah benteng kualitas dan keselamatan kerja.
Abuse of Power
Tidak sedikit super visor atau atasan yang memaksa bawahannya melanggar SOP, demi mengejar target kecepatan, efisiensi semu, dan lebih mengejar ringan dalam beban kerja. Memang dalam jangka pendek, cara ini terlihat sangat menguntungkan untuk karyawan bisa menghemat tenaga atau supaya tidak terlalu cape. Namun ternyata kenikmatan anda kenyamanan anda, mendapatkan gaji yang tidak sesuai SOP dapat merugikan orang lain atau tindakan sosial dalam jangka panjang, ia justru menghancurkan fondasi perusahaan.
Disfungsi Sistem Kerja
Ketika SOP yang seharusnya berfungsi sebagai sistem imun tapi malah sebaliknya justru dimatikan, maka apa yang terjadi? Produk menjadi cacat sehingga lolos ke pasar. Akibatnya, kualitas produk nya jelek atau serba kekurangan sehingga kepercayaan pelanggan menurun, pesanan berkurang, dan pendapatan perusahaan stagnan.
Patologi di Level Puncak Perusahaan Manipulasi Pendapatan dan Window Dressing
Patologi organisasi menjadi jauh lebih berbahaya ketika telah menjangkiti level pimpinan, seperti CEO atau jajaran direksi. Pada tahap ini, sering muncul dugaan manipulasi pendapatan demi menciptakan ilusi pertumbuhan.
Sehingga dalam ini ada praktek manipulasi laporan angka-angka keuangan dipoles agar terlihat sehat di mata investor, padahal kondisi riil perusahaan sedang mengalami tekanan berat. Praktik ini dikenal sebagai window dressing.
Dalam banyak kasus, kepentingan pribadi di atas kesejahteraan karyawan pimpinan tetap menikmati bonus dan fasilitas, sementara karyawan di lapisan bawah hidup dalam ketidakpastian. Bahkan dalam praktik ini tidak hanya dalam perusahaan saja, dari sektor kepemerintahan yang melakukan tindakan korupsi selalu memanipulasi. Ketimpangan ini menjadi bom waktu yang pada akhirnya meledak dalam bentuk pengangguran dan PHK massal.
Hubungan Patologi Organisasi dengan PHK Massal
PHK sering kali dibungkus dengan istilah efisiensi. Namun pada kenyataannya, PHK massal adalah hasil akhir dari akumulasi ketidakjujuran struktural. Karena menurut keyakinan saya, saya yakin produk-produk atau perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa bersaing di pasar global.
Namun perusahaan cenderung menjalankan dengan data palsu atau tidak menjalankan sesuai dengan SOP, sehingga tidak mampu melakukan inovasi nyata, karena terus dalam lingkaran setan dalam memperbaiki produknya yang berkurang soal kualitasnya. Sehingga keputusan strategis yang diambil pun menjadi keliru karena tidak berpijak pada realitas atau persaingan pasar global.
Ketika investor atau pasar menyadari adanya manipulasi, dukungan finansial akan ditarik secara mendadak. Pada titik inilah perusahaan kolaps.
Dampak Langsung ke Karyawan
Karyawan yang bekerja jujur justru menjadi korban paling menderita, karena ulah penyakit organisasi atau sebuah perusahaan. Mereka kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba, dan menambah angka pengangguran dan PHK massal di masyarakat.
Perbandingan Perusahaan Sehat dan Perusahaan Patologis
| Ciri Perusahaan | Perusahaan Sehat (Integritas) | Perusahaan Patologis (Penyimpangan) |
|---|---|---|
| Kepatuhan Aturan | SOP dijadikan standar kualitas mutlak | SOP dilanggar demi target jangka pendek |
| Keterbukaan Data | Jujur kepada investor dan karyawan | Manipulasi data demi menarik dana |
| Kesejahteraan | Pendapatan naik dan stabil | Stagnan, rugi, berujung PHK massal |
Pentingnya Nalar Kritis dan Integritas Kerja
Fenomena ini membuktikan bahwa kesejahteraan karyawan adalah hasil dari integritas kolektif. Ketika pelanggaran SOP dibiarkan dan manipulasi data dianggap wajar, sebenarnya perusahaan sedang merobohkan rumahnya sendiri.
Masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang memiliki nalar kritis. Seseorang yang kritis tidak akan membabi buta mengikuti perintah atasan yang salah. Namun realitasnya memang sangat sulit untuk melakukan perubahan ini, karena sejatinya sistem seperti itu berubah menjadi budaya dalam bekerja.
Tanpa integritas atau moral, secanggih apa pun pendidikan, sepintar apapun organisasi nya dan setinggi apa pun jabatan, seseorang hanya akan menjadi beban yang mempercepat kehancuran sistem ekonomi.
Kesejahteraan karyawan bukan hanya tanggung jawab pemilik perusahaan dalam memberikan gaji, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh karyawan dalam menjaga perilaku kerja. Seseorang yang berpikir kritis dan bermakna bagi orang lain akan menyadari bahwa bekerja dengan jujur bukan hanya soal mematuhi aturan, tetapi soal menjaga "roda ekonomi" tempat mereka bernaung. Jika perusahaan sehat, maka karyawan memiliki peluang lebih besar untuk sejahtera.
Sebaliknya, jika patologi dibiarkan dan dianggap lumrah, maka perusahaan sedang menuju kehancuran perlahan. Pada akhirnya, semua orang di dalamnya akan tenggelam dalam ketidaksejahteraan yang sama.
Penutup
Perilaku menyimpang dalam dunia kerja adalah racun yang membunuh perusahaan dari dalam. Untuk mencapai kesejahteraan, kita memerlukan keberanian untuk memutus budaya patologis ini. Dibutuhkan nalar kritis dari setiap individu untuk menyadari bahwa kontribusi yang jujur, baik melalui pendidikan formal maupun keahlian praktis adalah satu-satunya cara untuk tumbuh bersama. Menjaga kejujuran bukan sekadar nilai moral, melainkan syarat mutlak untuk mencegah pengangguran dan PHK massal di masa depan atau memutuskan rantai kemiskinan.