Dinamika Sepak Bola Indonesia: Antara Pengembangan Liga dan Pembinaan Pemain Lokal

2025-12-24 15:29 | Aji Hardiansah

Dinamika sepak bola Indonesia antara komersialisasi liga dan pembinaan pemain lokal

Perkembangan sepak bola Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran Liga Indonesia sebagai jantung ekosistem olahraga nasional. Liga Indonesia telah mengalami berbagai perubahan format dan nama, mulai dari Divisi Utama, Indonesia Super League (ISL), hingga kini Liga 1. Dalam dinamika sepak bola Indonesia, liga profesional berfungsi sebagai pusat kompetisi, bisnis, hiburan, serta wadah utama pembinaan pemain.

Liga Indonesia dalam Ekosistem Sepak Bola Nasional

Secara ideal, Liga Indonesia memiliki dua fungsi utama. Pertama, sebagai kompetisi profesional yang menarik secara bisnis dan hiburan. Kedua, sebagai sarana pengembangan pemain lokal yang berkelanjutan untuk kepentingan klub dan tim nasional.

Namun, dalam praktiknya muncul ketegangan antara tujuan komersialisasi liga dan kebutuhan pembinaan pemain lokal. Saat ini, kompetisi lebih banyak mengedepankan klub-klub besar seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema FC, Persebaya Surabaya, dan Dewa United.

Fokus Klub Besar dan Kancah Internasional

Dominasi klub besar tidak terlepas dari arah kebijakan PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang semakin berorientasi ke persaingan di level ASEAN dan internasional. Hal ini terlihat dari fakta bahwa klub Indonesia yang memenuhi standar kompetisi Asia masih sangat terbatas.

Terlepas hanya sebagian yang memenuhi standar kompetisi Asia yang diantaranya:

Lisensi Klub Profesional AFC

PT LIB mengumumkan bahwa hanya enam klub Liga 1 yang lolos lisensi tanpa syarat sesuai standar AFC Champions League, yaitu:

  • Persib Bandung
  • PSS Sleman
  • Borneo FC
  • Persita Tangerang
  • Persik Kediri
  • Dewa United

Kondisi ini memperjelas mengapa PT LIB mendorong kebijakan penambahan kuota pemain asing di Liga Indonesia.

Penambahan Kuota Pemain Asing

Pada musim terbaru, jumlah pemain asing yang boleh dimainkan klub meningkat dari sekitar 8 pemain menjadi 11 pemain asing. PT LIB menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan opsi strategis agar klub Indonesia mampu bersaing di level ASEAN maupun internasional, sekaligus meningkatkan popularitas dan nilai bisnis liga.

Namun, kebijakan ini memunculkan pertanyaan besar dalam dinamika sepak bola Indonesia. Kualitas wasit dan kompetisi secara umum dinilai belum mengalami perubahan signifikan dibandingkan musim sebelumnya, sementara ruang bermain pemain lokal justru semakin menyempit. Maka dampak yang seharusnya diperhatikan oleh PT LIB, jangan hanya untuk kepentingan bisnis dan popularitas semata, memang bagus popularitas sepak bola Indonesia dan bisnis sepak bola menjadi naik signifikan.

Dampak Ketimpangan Antarklub

Jika prioritas lebih diberikan kepada klub-klub besar yang memenuhi standar Asia, maka klub-klub kecil akan semakin kesulitan bersaing. Perbedaan kualitas manajemen dan finansial membuat klub besar mampu merekrut pemain asing berkualitas, sementara klub kecil tertinggal jauh.

Akibatnya, persaingan di Liga Indonesia menjadi timpang. Klub kecil kesulitan mengembangkan pemain karena harus bersaing dengan klub besar yang memiliki kedalaman skuad dan sumber daya lebih baik.

Bukan hanya itu saja, pengembangan pemain muda lokal pun ikut merasakan ketimpangan, dengan peraturan Liga Indonesia.

Pemain Muda dan Regulasi U-23

Secara regulasi, Liga Indonesia mewajibkan pemain U-23 untuk dimainkan minimal 45 menit. Namun, fakta di lapangan sering kali tidak seideal aturan di atas kertas.

Bahkan, pelatih Persija Jakarta pernah menyampaikan bahwa jika liga benar-benar ingin memprioritaskan pemain muda, seharusnya kompetisi difokuskan pada pengembangan pemain usia muda atau menyediakan turnamen khusus U-23 yang berkelanjutan.

Tapi kalau mau peraturan seperti itu, lihat dulu lah beberapa negara dalam pelaksanaan liga.

Belajar dari Model Liga Internasional

Beberapa liga internasional terkemuka berhasil menyeimbangkan aspek bisnis dan pembinaan pemain muda dengan sangat baik, Seperti contohnya:

Bundesliga Jerman

Bundesliga menekankan kepemilikan klub berbasis anggota serta infrastruktur akademi yang ketat. Hasilnya, Jerman secara konsisten melahirkan pemain kelas dunia seperti Joshua Kimmich, Niklas Süle, Timo Werner, Kai Havertz, Leroy Sané, dan banyak lainnya.

Eredivisie Belanda dan Liga Portugal

Eredivisie dan Liga Portugal dikenal sebagai liga pengembang pemain. Klub-klubnya menjadikan pembinaan pemain muda sebagai aset utama, baik untuk prestasi maupun transfer internasional.

Sumber: Kumparan

PSSI dan Tantangan Pengembangan Pemain Lokal

Di tingkat daerah, kondisi infrastruktur sepak bola Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Kualitas dan kuantitas lapangan terbatas, fasilitas penunjang minim, serta kesenjangan antardaerah masih sangat besar.

Pusat pelatihan masih belum merata, dan dukungan pemerintah daerah sering kali belum optimal. Kondisi ini sangat berbeda dengan negara seperti Jepang, di mana pemerintah dan sektor swasta aktif mendukung pengembangan sepak bola usia dini.

Studi Kasus Jepang

Final turnamen sepak bola antar SMA di Jepang, All Japan High School Soccer Tournament, digelar di Japan National Stadium dan disaksikan lebih dari 55.000 penonton. Laga final mempertemukan Aomori Yamada melawan Ohmi High School, dengan atmosfer layaknya pertandingan profesional.

Turnamen ini menjadi fondasi penting keberhasilan Jepang lolos secara konsisten ke Piala Dunia. Sejak 1917, kejuaraan ini terus dikembangkan secara serius.

JFA bahkan mewajibkan setiap klub J-League untuk memfasilitasi sekolah lokal di wilayahnya, sehingga bakat usia dini dapat terdeteksi dan dibina melalui akademi klub.

Sumber: Bolalob Football

Jalan ke Depan untuk Sepak Bola Indonesia

Ke depan, dinamika sepak bola Indonesia seharusnya tidak hanya berfokus pada popularitas dan bisnis jangka pendek. Pengembangan pemain lokal dan muda harus menjadi prioritas utama.

Prestasi olahraga Indonesia di berbagai ajang, termasuk SEA Games, menunjukkan bahwa pembinaan usia muda yang serius mampu menghasilkan prestasi melampaui ekspektasi. Contoh nyata lainnya adalah tim nasional futsal Indonesia, yang meski minim eksposur, mampu bersaing tanpa bergantung pada pemain asing.

Penutup

Sepak bola Indonesia membutuhkan keseimbangan antara bisnis dan pembinaan. Tanpa arah yang jelas dalam pengembangan pemain lokal, liga mungkin berkembang secara komersial, tetapi fondasi prestasi jangka panjang akan rapuh. Fokus pada pembinaan usia muda adalah investasi utama bagi masa depan sepak bola Indonesia.