Kemenangan tipis Persib Bandung atas PSM Makassar baru-baru ini kembali menegaskan posisi Maung Bandung sebagai salah satu kekuatan utama di BRI Liga 1 2025. Namun jika kita menoleh sedikit ke pinggir lapangan, cerita yang berlangsung jauh lebih besar dari sekadar skor akhir pertandingan. Ada narasi panjang tentang regulasi, bisnis, popularitas, serta ambisi ekonomi yang tengah dimainkan oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI.
Dominasi Persib dan Keuntungan dari Regulasi Baru
Persib Bandung kerap disebut sebagai klub dengan daya magnet terbesar di Indonesia. Basis pendukung yang masif, loyal, dan aktif di stadion maupun media sosial menjadikan setiap kemenangan Persib sebagai kabar baik bagi rating televisi, trafik digital, dan sponsor.
Regulasi PT LIB pada musim 2025 yang semakin fleksibel, terutama terkait kuota pemain asing, secara tidak langsung menguntungkan klub-klub dengan manajemen finansial kuat seperti Persib. Mereka mampu memilih pemain asing secara selektif, bukan sekadar banyak, tetapi tepat sasaran.
Popularitas Persib yang terus meroket bukan hanya mengharumkan nama Bandung, tetapi juga mengangkat citra sepak bola Indonesia di mata regional dan internasional. Ketika klub Indonesia terlihat profesional dan kompetitif, harga diri sepak bola nasional ikut terdongkrak.
Namun di satu sisi peraturan liga Indonesia yang kuota 11 pemain asing tidak bisa dirasakan sepenuhnya oleh club-club yang manajemen finansialnya yang tidak kuat seperti persib. Apalagi untuk bersaing di kancah internasional pun sulit sekai.
Kontroversi Kuota 11 Pemain Asing: Kualitas atau Strategi Bisnis?
Perubahan paling radikal di musim ini adalah kebijakan kuota pemain asing. Jika sebelumnya Liga 1 mengenal format 8 pemain asing dengan 6 yang bisa dimainkan, kini PT LIB mengizinkan klub mendaftarkan hingga 11 pemain asing dengan 8 di antaranya boleh turun ke lapangan. Memang kebijakan ini sungguh ada kemanfaatanya, tapi hanya sebagian tidak mencakup semua club yang berlaga di liga Indonesia. Tetapi peraturan liga Indonesia sekarang banyak di pertanyakan.
Tujuan Teknis atau Ambisi Ekonomi?
Pihak PT LIB dan PSSI beralasan bahwa kebijakan ini bertujuan meningkatkan kualitas liga agar klub Indonesia mampu bersaing di level Asia. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah ini murni kebutuhan teknis, atau justru strategi bisnis untuk menaikkan nilai jual liga?
Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, langkah ini memang masuk akal. Pemain asing berkualitas mendongkrak kualitas pertandingan, menarik penonton, meningkatkan hak siar, serta memperkuat posisi liga di mata sponsor. Namun kekhawatiran tetap ada, terutama soal nasib pemain lokal. Sehingga kita harus bedah dari segi ekonomi atau popularitas liga Indonesia saat ini.
Menaikkan Nilai Jual Liga Indonesia
Sepak bola Indonesia saat ini memiliki basis penggemar yang sangat besar. Diperkirakan terdapat sekitar 165,4 juta penggemar sepak bola atau setara dengan 60% populasi Indonesia. Angka ini menjadi modal utama bagi PT LIB dan PSSI dalam menjual produk liga.
Hingga data kehadiran penonton di stadion Liga 1 musim 2024/2025 menunjukkan angka yang tinggi, bahkan mencatat beberapa rekor penonton. Antusiasme ini tidak lepas dari meningkatnya kualitas pertandingan, popularitas klub besar seperti Persib, serta efek domino dari prestasi Timnas Indonesia yang diperkuat pemain naturalisasi dan diaspora.
Fenomena ini kemudian berkelindan dengan kebijakan penambahan pemain asing. Tujuannya jelas: menaikkan nilai jual liga, terutama bagi klub-klub besar dengan basis massa kuat. Persib menjadi contoh nyata bagaimana seleksi pemain asing yang ketat mampu menghasilkan performa konsisten di kompetisi domestik maupun internasional. Di sisi lin ada pihak yang tidak mendapatkan keuntungan seperti:
Penolakan dan Kekhawatiran APPI
Meski demikian, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) menyuarakan keberatan. Mereka menilai regulasi 11 pemain asing berpotensi mengurangi jam terbang pemain lokal, menghambat regenerasi, dan berdampak pada kualitas Timnas Indonesia dalam jangka panjang. Meski APPI tetap mendukung peningkatan kualitas kompetisi, mereka menekankan pentingnya keseimbangan. Namun semua itu tidak akan berpengaruh dengan menyeimbangkan para pemain atau club karena pada dasarnya, Ekonomi tumbuh pesat dalam hal sepak bola, karena:
Dampak Ekonomi bagi PSSI dan Liga Begitu Besar
Dari sisi ekonomi, dampak kebijakan ini bagi PSSI dan PT LIB bersifat jangka panjang dan sistemik. Yang diantaranya:
1. Peningkatan Koefisien Liga Asia
Prestasi klub-klub Indonesia di kompetisi Asia, termasuk Persib, berkontribusi pada peningkatan koefisien Liga Indonesia di level AFC. Peringkat yang lebih baik membuka peluang jatah lebih banyak di kompetisi klub Asia.
2. Daya Tarik Sponsor
Liga yang kompetitif dan memiliki peringkat tinggi menjadi lebih bernilai di mata sponsor. Saat ini, perputaran ekonomi Liga 1 diperkirakan mencapai Rp10,5 triliun per musim, terutama dari hak siar dan sponsor utama seperti BRI.
3. Standarisasi dan Profesionalisme
Momentum ini dapat dimanfaatkan PSSI untuk mendorong standarisasi klub, penerapan lisensi profesional, penggunaan VAR, dan peningkatan kualitas kompetisi secara keseluruhan.
4. Efek Ekonomi Rakyat
Sepak bola menjadi motor penggerak ekonomi rakyat: UMKM di sekitar stadion, transportasi, perhotelan, hingga sektor kreatif turut merasakan dampaknya.
Jadi setidaknya Persib Bandung sekrang jadi wajah baru liga Indonesia atau anak emas PSSI dan PT LIB.
Persib sebagai Wajah Sepak Bola Indonesia
Persib bukan sekadar klub. Ia telah menjadi wajah sepak bola Indonesia. Dari 2023 hingga 2025, Persib konsisten mencatatkan prestasi, memiliki skuad berkualitas, serta tampil kompetitif di level Asia Tenggara hingga mampu menembus fase gugur.
Dukungan terhadap Persib tidak hanya datang dari Jawa Barat, tetapi juga dari luar negeri. Ini menunjukkan bahwa Persib telah melampaui identitas kedaerahan dan menjadi simbol kekuatan sepak bola nasional.
Namun dengan adanya Persib Bandung menjadi wajah baru liga Indonesia dari segi infrastruktur dan pembinaan usia dini belum sepenuhnya seimbang.
Kritik Infrastruktur dan Pembinaan Usia Dini
Pengamat sepak bola senior Anton Sanjoyo alias Bung Joy kerap mengingatkan bahwa pembangunan sepak bola tidak bisa instan. Naturalisasi dan pemain asing tanpa fondasi yang kuat hanya akan menghasilkan kemajuan semu.
Poin Kritik Bung Joy
- Fondasi liga dan infrastruktur yang masih lemah
- Minimnya pembinaan usia dini dan konsistensi EPA
- Kesenjangan besar dengan standar negara maju seperti Jepang
- Kritik terhadap akselerasi instan tanpa perbaikan fundamental
Kesimpulan
Regulasi 11 pemain asing dan dominasi klub besar seperti Persib memang membawa dampak positif bagi nilai jual liga dan pertumbuhan ekonomi sepak bola Indonesia. Namun tanpa pengelolaan yang amanah, kebijakan ini berisiko mengorbankan pemain lokal dan masa depan pembinaan.
Jika pertumbuhan ekonomi dari sepak bola benar-benar ingin dimanfaatkan, maka hasilnya harus kembali ke rakyat: pembangunan infrastruktur, perbaikan kualitas liga Indonesia, pembinaan usia dini, dan kesejahteraan pelaku sepak bola nasional. Dan untuk supporter dan penonton pun memiliki peran penting, bukan hanya sebagai penikmat hiburan, tetapi harud jadi sebagai pengawas arah perkembangan sepak bola Indonesia jadi lebih maju dan berkembang.
Sepak bola bukan sekadar permainan. Ia adalah harapan, identitas, dan potensi ekonomi bangsa.